Sudah nyaris 2 tahun, Sayang.
Sudah banyak yang kita lalui. Cinta, kesedihan, amarah, kerinduan, passion, keberpalingan, jarak, dan lain-lain. Semua ups and downs sudah kita alami, dan lihat dimana kita sekarang, Sayang. Sekian ratus kilometer tidak memisahkan kita. Sekian banyak kata yang menjadi penghubung lewat SMS maupun telefon menjadi pelekat kita. Pertemuan yang frekwensinya menyamai para pasangan yang terpisah negara menjadi momen-momen krusial yang amat kita nanti. 2 tahun, Sayang, dan semua itu kita lalui dengan baik, meskipun oknum ini dan oknum itu sempat tersebut disana-sini, tapi, yah, kita tetap bersama disini. Tetap saling percaya, dan saling mencintai.
Tetapi, akhir-akhir ini..
Ketika aku bersedih dan kecewa, kamu menghindariku, Sayang. Kamu terlihat tidak perduli, dan itu membuatku merasa sendiri. Satu kali. Ternyata itu bukan yang terakhir. Ternyata ada kali-kali yang lain. Dan juga, terlalu banyak diam yang mendominasi percakapan kita akhir-akhir ini, Sayang. Selalu pengulangan. Apakah kamu sadar penurunan semangatku, Sayang? Apakah kamu sadar aku lebih banyak diam, tertawa sekadar untuk formalitas atas pembicaraanmu, lebih memilih mengisi tenaga dengan tidur daripada mengangkat telefon dan mendengar suaramu? Rutinitas kita juga terlalu monoton, Sayang. Apakah hanya aku yang menyadari ini? Ya, aku memang egois, seperti katamu. Tetapi salahkah aku jika rasa bosan itu lama-lama menumpuk, dan mulai mengganggu?
Tolong aku, Sayang.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
-Sayangmu....... masih?
Saturday, September 12, 2009
Tuesday, September 1, 2009
Foxxy fox
Subscribe to:
Posts (Atom)
